
Fragrans, atau aroma wewangian, memiliki sejarah panjang bahkan sudah berlangsung ribuan tahun yang lalu. Di zaman sebelum masehi (SM), fragrans muncul dalam bentuk kemenyan yang diekstrak dari tumbuhan.
Bangsa Mesir kuno, termasuk Sang Ratu Cleopatra, juga memakai wewangian dalam acara ritual penguburan. Fragrans juga menjadi simbol status sosial bagi sipemakainya. Sama seperti sekarang ini, ketika orang-orang memakai wewangian mahal dianggap sebagai kalangan the have.
Orang-orang Yunani kuno juga percaya, wewangian mampu menjadi media kontak dengan dewa-dewi mereka. Orang Romawi memikat lawan jenisnya dengan wewangian. Namun, menyusul runtuhnya Kekaisaran Romawi pada abad pertengahan, fragrans dipakai untuk menutupi bau busuk penyakit.
Sebagai kaum muslim di Indonesia mengenal aneka parfum dari Tanah Arab, yang biasa digunakan untuk shalat. Ternyata minyak inilah yang menjadi embrio kelahiran berbagai jenis fragrans di masyarakat Eropa. Orang-orang Eropa memang mempelajari proses penyulingan minyak esensial menjadi wewangian dari Timur Tengah. Tak heran jika fragrans mencapai masa keemasannya pada abad ke-16. Banyak orang belajar sekaligus mengagumi khasiat fragrans sebagai pengharum.
Pada akhir abad ke-18, Perancis mulai memperkenalkan parfum dari bahan sintetis. Sejak itu pula Perancis dikenal sebagai pusat parfum dunia. (Sumber: Suara Merdeka, 27 November 2007)
Bangsa Mesir kuno, termasuk Sang Ratu Cleopatra, juga memakai wewangian dalam acara ritual penguburan. Fragrans juga menjadi simbol status sosial bagi sipemakainya. Sama seperti sekarang ini, ketika orang-orang memakai wewangian mahal dianggap sebagai kalangan the have.
Orang-orang Yunani kuno juga percaya, wewangian mampu menjadi media kontak dengan dewa-dewi mereka. Orang Romawi memikat lawan jenisnya dengan wewangian. Namun, menyusul runtuhnya Kekaisaran Romawi pada abad pertengahan, fragrans dipakai untuk menutupi bau busuk penyakit.
Sebagai kaum muslim di Indonesia mengenal aneka parfum dari Tanah Arab, yang biasa digunakan untuk shalat. Ternyata minyak inilah yang menjadi embrio kelahiran berbagai jenis fragrans di masyarakat Eropa. Orang-orang Eropa memang mempelajari proses penyulingan minyak esensial menjadi wewangian dari Timur Tengah. Tak heran jika fragrans mencapai masa keemasannya pada abad ke-16. Banyak orang belajar sekaligus mengagumi khasiat fragrans sebagai pengharum.
Pada akhir abad ke-18, Perancis mulai memperkenalkan parfum dari bahan sintetis. Sejak itu pula Perancis dikenal sebagai pusat parfum dunia. (Sumber: Suara Merdeka, 27 November 2007)



